Minggu, 17 November 2013

Lihatlah Kesini...

Sedikit saja... Tolong lihat kesini...
Jangan diam termenung jauh disana. Mencari, berjalan, berlari tak tentu arah.
Tolong tengok ke arah sini... Lihatlah apa yang ada didalam...
Bukankah itu tak jauh berbeda dengan apa yang selama ini kau cari? Jadi tolong...
Jangan buang-buang waktu dan datanglah kesini. Diamlah disini.
Walau sedikit saja melihat...
Walau sebentar saya berdiri...
Tapi hal yang ada didalam akan selalu merasa berarti...
Sedikit saja, tak perlu kau cipta... tak akan ada yang ku pinta..
Hanya...
Tolong lihatlah kesini dan apa yang ada disini...

*pinta masalalu... untukmu yang selalu setia bersamaku*

30 Desember 2012

Bayang Suram Dunia Sandiwara

Matahari kembali pergi
Hanya gelap gulita yang tersisa
Walau rengkuhan tak akan terlepas
Tapi landasan hancur lebur seiring dengan waktu berlalu

Ku lamjutkan langkah tegakkan kepala
Ku teruskan sandiwara
Ku mainkan semua peran yang aku mau...
Wanita angkuh tak tahu malu
Gadis lugu pengumpul ilmu
Bahkan...
Perempuan hina yang tak peka
Atau kadang
Perempuan sicu pelantun ayat cinta
Dan mungkin...
Gadis manja pencari cinta
Semua ku lakukan
Ku turuti walau pada akhir sakit hati
Air jatuh menitik...
Ku turuti semua keinginan sutradaea
Meski tak ku pahami siapa jiwa pengatur itu...
Menunut yang tak patut
Pamrih terhadap apa yang ia beri
Ia pergi, berlari, mencuri jiwa kecil bak kemiri

Kadang romansa jadi pilihannya
Walau tak jarang tragedi menantangnya
Tapi komedi tetap nomor satu dihatinya

Semua yang dia mau
Semuanya pula ku turuti
Apapun yang ia mau ku kerjakan
Tertawa 
Menangis
Tersenyum
Bahkan berteriak tak karuan seperti orang gila

Tapi...
Disela-sela lakon itu aku berpikir...
Siapa sutradara gila itu/
Mengapa ku lakukan semua yang ia mau?
Apakah... bayang hitam berselimut api?
Atau mungkin... 
Pemilik jiwa nan kaya raya?
Jika iya... mengapa ia tega?

Ku lakukan semua peran
Sampai ku tak tahu mana jiwaku
Ku cari jiwa itu...
Tapi apa yang ku dapat?!

Meski ku hanya aktris gadungan...
Tapi aku juga anak cucu adam...
Bukankah aku punya pilihan? 

*dengan segala revisi*

17 Desember 2012

Sabtu, 16 November 2013

Puisi Empat Pilar

Tadaaaaa. Naskah lomba puisi empat pilar negara nih.... sudah lama lombanya. Dan kalah hehe. Subhanallah banget yang datang waktu ituuu. Ada dua naskahnya nih... Ini yang pertama...

Indonesiaku

Ini kisah negeri nan indah
Jutaan jiwa mengukir sejarah
Alam pemurah kekayaan melimpah
Sumber budaya
Warisan dunia

Indonesiaku...
Hamparan bunga aneka warna
Keindahan dan keelokan negeri kayangan
Wangi merekah
Memanjakan mata
Penyejuk jiwa
Hebatnya... Ini ada di didunia...
Dunia nyata
Anugrah Sang Pencipta

Negeri Indonesia
Negeri impian pendiri bangsa
Bahkan  nyawa berani ditaruhkan
Hingga Pancasila rela dibuat-Nya
Lima butir dasar negara
Penunjuk angan dan harapan
Bukan sekedar pajangan dalam pigura

Masyarakatnya ratusan hingga jutaan
Suku bahasa ratusan menarik perhatian
Bagai lukisan panorana seniman
Tercipta dengan berbagai bahan
Demi satu tujuan
Itulah...
Bhineka Tunggal Ika

Ibuku bilang...
Indonesia negeri budi pekerti
Kemanusiaan dijunjung tinggi
Persatuan dilindungi
Musyawarah selalu dijalani
Keadilan... Jadi makanan sehari-hari...
Tapi... itu kata beliau
Yang hidup dimasa lampau...

Guruku bilang...
Indonesia negara agamis...
Meski banyak manusia nan bengis...
Indonesia tetap agamis...
Walau tak jarang kebenaran ditangkis...

Ayahku bilang...
Indonesia bukan negara gemilang
Cahayanya hilang ditelan bintang
Konstitusi nan cemerlang...
Kadang enggan dilaksanakan...
Katanya...
Biarkanlah ombak pecah ditengah lautan
Dari pada harus menghadang karang
Dan menerjang daratan
Lalu ku bilang...
Bukankah ombak akan selalu menghadang keduanya?

Tapi...
Suatu hal yang kami bersama ingini...
Kerukunan dan persatuan yang kami idami
Cukup melihat dan mengerti
Ku yakin kita akan pahami

Negeri kami...
Jiwa kami...
Indonesia...
Walau jiwa akan selalu teruji
Daya juang tak akan mati...
Meski ketakutan tak henti menghantui
Keberanian tak akan kalah disaingi...
Walau kenyataan akan terus menyakiti...
Tapi kami
Pemuda pemudi...
Tak akan diam lalu pergi...

Kami penerus bangsa
Akan melawan perpecahan
Kami pemimpin masa depan
akan meluluhlantahkan ketidakadilan
Yang kami ingini...
Indonesia menjadi murni
Yang kami idami...
Indonesia menjadi bangsa yang hakiki...

*dengan segala revisi*

Hidup mahasiswa!!! *sudah jadi mahasiswa*

Ini yang kedua...

Siluet Damba Pemilik Bangsa

Kepulauan itu berpijar
Tak henti memancarkan cahaya keanekaragaman
Hatiku bergetar
Takjub akan karya Sang Maha Pencipta

Pijakan kokoh dibangun disana
Setelah ribuan tangan berpegang bambu runcing
Hingga kaki-kaki terseok, tertatih...
Tubuh terkulai penuh darah
Mereka terus berlari
Mencari dan mencipta lima sila kebangsaan bangsa dan sekutunya

Surga dunia berselimut persatuan
Berpegang teguh pada tiang kerukunan
Namun..
Pilar itu mulai rapuh, retak, tak terawat
Roboh diterjang angin kerusakan
Hancur ditempa badai kerakusan anak cucu adam
Tangan-tangan kotor tak henti menodai ibu oertiwi
Kaki penguasa berpijak menindas
Mulut kecil tak henti menyuap yang bukan hak
Tega menipu, membunuh...
Berpihak pada arus semu berujung pilu
Menghamburkan siluet dambaan bangsa

Pemilik damba resah
Menitikkan air mata
Tak mampu hentikan pencemaran nilai paham
Siluet damba kusam, usang, tak lagi terjamah
Melebur bersama asap-asap kebebasan tanpa tanggung jawab

Sebelum siluet itu lenyap
Mari...
Bangkitkan cakrawala dari jurang kedangkalan
Lenyapkan intervensi luar pelebur bangsa
Junjung tinggi keindahan kebenaran

Mari...
Bentangkan tangan menyambur persatuan
Buka mata hati
Jangan biarkan tak terketuk
Berkorban
Berlari
Menggapai bintang jauh diangkasa
Jangan biarkan siluet damba punah
Pergi jauh tak tentu arah

*dengan segala revisi*

Selesai! Gitulah puisi aneh huhuhu :)

Semua Tak Kasat Mata

Share-share tulisan aneh ya :)

Semua Tak Kasat Mata

Ku diam lalu merenung dalam hati
Diam, sunyi, penuh kepiluan
Ku tanya putih
Selalu putih jawabnya
Masih tanda tanya...
Ku hampiri merah
Dia beri aku hitam
Tetap tanda tanya...

Lalu ku keluar masuk dunia kelap-kelip
Bola cahaya itu selalu berputar
Memamerkan hiasan-hiasan aneh
Pengunjungnya membawa bongkahan rasa
Rasa hambar diiringi aroma busuk menusuk

Ku seret diri lalu ku coba gapai bulan dan bintang
Jalannya bergelombang
Namun berudara sejuk tak ku duga...
Ku rebahkan tubuh kemudian terlelap
Kadang ku nikmati...
Kadang ku pergi namun selalu kembali...
Kembali terlelap atau terpejam...

Ku lari menuju bangku-bangku
Hewan buas datang menghampiri
Namun selalu ku tendang
Ku buang ke kolong-kolong gedung...
Dia datang kembali...
Ku seret menuju ruang bawah tanah...
 

Ku gemar pergi dan kembali...
Ke pantai bersantai
Ke laut menyelami kehidupan
Atau ke hujan membawa aneka teriakan dan cacian
Kadang ku berhenti dan berotasi
Namun tak pernah jauh dari tempatku berasal
Diriku membawaku ke istana
Tapi tak berkompromi denghan hidup
Hidup lebih suka singkong
Bukan keju gurih yang kusukai
Apalagi kue tar manis penuh hiasan
Hidup selalu membawa aneka rasa
Rasa aneh tak terduga


*dengan berbagai revisi*
17 November 2012 

First

Postingan pertama diblog pertama yang udah lupa passwordnya-_- just remember...

Kekecewaan

Sudah bertahun-tahun lamanya
Tahun sudah lenyap dihempas waktu
Hari demi hari telah terlewati
Hujan, kemarau terus bergantian mewarnai alam ini

Tapi....
Sudah sembuhkah luka ini?
Sudah pulih kan guratan pisau dihati ini? Trauma yang menghantui jiwa?

Rasanya baru kemarin keluarga ini harmonis, penuh canda tawa
Tetapi... mengapa keadaan berubah?
Mengapa seolah matahari tidak terbit lagi?
Mengapa badai datang menerjang?
Mengapa seakan ribuan batu menghujam jiwa?

Ibu....
Sanggupkah aku menjadi penegar bagi jiwamu?
Mampukan aku ibu...
Jiwa yang rapuh...

Ibu....
Mampukah aku melukis senyum diwajahmu?
Membuat genangan haru dicelah matamu?
Mampukah aku ibu...

Ayah...
Bisakah engkau membalikkan telapak tangan?
Membangkitkan sang fazar dalam hidup kami?
Mampukah engkau membangun puing-puing hati kami yang telah hancur karena perbuatanmu?

Ayah! Maafkan aku!
Tapi...
Dimana letak kesadaranmu?
Dimana hati nuranimu ayah?
Sosok teladan kami...

Yaa Tuhanku...
Bantu aku...
Tegarkan Ibuku...
Bawalah Ayahku kembali...

Aku sadar semua adalah skenario-Mu
Tapi...
Bisakah tragedi ini berakhir?
Bisakah tragedi menjadi komedi?
menjadi parodi?

Kamis, 14 November 2013

Tempat Sampah

Dibacanya gak enak yah tempat sampah. Tapi itu salah satu caraku menggambarkan beberapa orang yang sampai dengan saat ini, masih sangat-amat-benar-benar setia bersamaku, tak peduli waktu sudah berjalan begitu lama. Mereka yang benar2 tulus padaku, terimakasih atas waktu kalian<3
Entah kenapa, walaupun gak etis aku seneng aja nyebut mereka begitu! Karena gak ada analogi yang lebih pas buat ngegambarin betapa mereka bergunanya sebagai tempat sampah. Semua keluhan dibuang terus dilimpahin ke mereka, terus abis curhat dan ngomel2 buang sampah kemereka, perasaan langsung lega aja gitu, rasanya jiwa2 ini bersih dari sampah2 yang udah numpuk. Dan senebenernya sih bukan kalian aja yang bisa jadi tempat sampah! Aku juga selalu ada dan siap sedia untuk jadi tempat sampahmu!

Aku sayang kalian tempat sampahku<3

Permulaan

Hai. Hai.

Setelah lama berkeinginan nulis, akhirnya nulis. Semoga blog ini manfaat. Bisa jadi tempat sampahnya titah untuk menguras puing-puing kekesalan yang gak tau harus dihilangkan kemana. Be nice ya blog... jangan macam pink yang sudah ku museumkan! Semoga blog ini selalu menjadi tempat sampahku menguras sisa-sisa lelah setiap harinya.

Welcome to the new world^^