Kamis, 08 Mei 2014

Waktu

Waktu terus berlalu..
Tanpaku sadari yang ada hanya.. Aku dan kenangan..
-Untaian lirik lagu lama.

Entahlah..

Rasanya untaian lirik itu begitu cocok dengan segalanya akhir-akhir ini...

Rasanya memang semuanya hanya kenangan.. Entah kenangan penuh makna atau hanya peristiwa penambah dosa... Entah...

Tapi yang lain..
Rasanya terlalu buruk jika disebut kenangan penambah dosa... Karena ku akui sebagian telah menghantarkanku pada waktu yang kan selalu ku rindu. Waktu yang kan selalu ku mau.. Bersama mereka.. Bersama mereka yang akan selalu ku ingat dalam proses perubahanku..
(Oh Ka Riska.. Oh Bhekti.. Aku sayang sama kalian..)

Rasanya waktu begitu mengejutkanku dengan apa yang selalu dia tunjukkan.. apa yang selalu dia beri untuk persepsiku terhadap kenanganku.. terhadap masalaluku..

Rasanya dari hari ke hari.. Aku tak pernah berhenti berpikir.. tak pernah berhenti mencari apa yang seharusnya waktu tunjukkan padaku.. walaupun itu hanya sebuah keinginan dan firasat belaka bagiku...

Rasanya.. kenanganku bergitu berwarna.. begitu takjub ku kepada-Nya karena membuat segalanya tak pernah menjadi keinginanku.. Namun sekarang begitu bahagia ku menerima segalanya.. Takkan pernah mau ku melepasnya.. Melepas apa yang selama ini ku cari... melepas apa yang selama ini ku idam-idamkan...

Tapi..
Rasanya.. Beberapa kenangan tak pernah berhenti menamparku, mendorongku, dan menyeruku pada masa yang tak seharusnya sama dengannya.. Pada masa yang tak seharusnya bersumber darinya.. Kenangan seperti ini... takkan pernah ku lupakan.. tapi ku berusaha sekuatnya, untuk takkan pernah melakukan pengulangan...
Karena kenangan semacam ini... kadang hanya menjadi luka.. luka yang takkan sembuh begitu mudah.. luka yang membekas dan akan selalu ada sisanya..

Rasanya.. Rasanya.. dan rasanya...
Segala kenangan begitu berharga.. walaupun ku akui tak semuanya bermakna.. tapi setidaknya semuanya memberi arti pada hadirku hari ini...
Bahwa diriku saat ini... adalah kepingan kepingan jiwa yang telah dibangut olehnya...
Oleh kenangan yang dalam izin-Nya telah menjadi mililku..
Ya... milik aku dan hidupku...


"Waktu tak akan pernah berbohong.
Waktu tak akan pernah bersandiwara.
Dia selalu menyingkap kejujuran dibalik semua kepalsuan.
Dia sering kali menusukku dengan hal yang dia tunjukkan..
Namun diapun kerap memelukku, mendekapku hangat dengan matahari yang tak pernah hinggap dibayangku.
Dia kerap mendidikku... menyembuhkanku dari masa lalu nan pilu..
Kau membawakanku hadiah dan hari yang cerah.
Oh waktu... jika kau mampu ku lihat... jika kau mampuku genggam dengan wujudmu... maka izinkanlah aku menjadi kekasihmu... 
Kekasihmu... yang akan selalu menunggumu untuk memberi warna dalam hidupku..."
-Waktu oleh Pengagum-Mu.

Kamis, 23 Januari 2014

Kehilangan

"Percayalah, yang hilang tidak bermakna binasa, dan yang pergi tidak bermakna kita kehilangan segala."
-Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau Dekat oleh Yadi Saeful Hidayat

Kehilangan. Satu kata yang mungkin akan selalu dihindari bagi setiap orang. Satu kata yang mungkin menyita berbagai perhatian, mengundang beribu ketakutan, menyebabkan berbagai kesedihan yang kadang tak mudah dilupakan dan dilepaskan.

Setiap orang didunia, pasti pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Entah kehilangan beberapa materi, harga diri, atau sosok yang selalu dihati. Entah kehilangan suatu yang sangat amat bermakna atau suatu hal yang tak ada harganya. Entah kehilangan seseorang yang sangat dicintai atau seseorang yang amat dibenci. Bagaimanapun macam dan bentuk suatu yang hilang.. bermakna atau sebaliknya... itu semua masih dikatakan sebagai sebuah kehilangan.. Kehilangan akan sesuatu yang sebelumnya pernah ada.

Mungkin setiap orang bisa mendeskripsikan berbagai makna dari kehilangan. Karena walaubagaimanapun, setiap manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing. 
Beberapa orang menerima kehilangan sebagai suatu bencana, musibah, dan kesialan yang tak sepatutnya terjadi dalam hidupnya. 
Beberapa orang menganggap kehilangan adalah perencanaan, karena mereka berusaha mengontrol apa datang dan pergi dalam hidupnya, semua adalah skenario, skenario yang mereka buat. 
Beberapa orang menganggap kehilangan adalah ujian, proses, dan cobaan yang memang akan dirasakan bagi mereka yang disayangi Sang Pencipta. Bagi mereka, kehilangan hanyalah sebuah cara untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, Sang Penguasa Alam Semesta yang begitu mencintai mereka. Sehingga mereka dijadikan sebagai orang-orang beruntung yang diuji tingkat keimanannya.

Namun bagi beberapa orang, sebagian kecil orang, kehilangan adalah rasa yang tak ubah layaknya nasi yang selalu mereka cicipi. Mereka terbiasa dengan hal itu, dan mereka bersahabat dengan rasa itu... Walau awalnya sulit dan sakit, tapi sebuah cerita memilihnya untuk selalu kehilangan, maka mereka berusaha bersahabat dengan rasa itu.. rasa yang pada awalnya menusuknya.. mengubur sebagian harapan-harapan yang dulu dikhayal menjadi sebuah kenyataan.. 
Mereka yang mengalami kehilangan secara terus menerus, lalu mereka berubah menjadi pribadi yang acuh, skeptis, dan apatis terhadap sebuah keberadaan, takut akan sebuah keberadaan yang pada akhirnya berujung ketiadaan.. 
Dalam diri mereka, hanya ada pengetahuan bahwa kehilangan hanyalah badai, dan badai pasti berlalu, namun badai meninggalkan korban, meninggalkan luka, dan trauma.. dan rasa trauma itulah yang ada pada diri mereka... 

Kehilangan memang tak selamanya bermakna negatif, selama sesuatu yang hilang itu membawa kepada kebaikan dan perubahan yang mencerahkan, mungkin kehilangan akan berubah menjadi sebuah fase hidup yang harus disyukuri. 
Bagiku, kehilangan adalah sebuah kata yang netral, tergantung bagaimana kita sebagai aktor menafsirkan dan memilih lakon mana yang akan kita jalani untuk menyikapi sebuah kehilangan. Tetapi walaubagaimanapun, mereka adalah aku, dan aku adalah aktor gadungan yang berhasil memerankan berbagai lakon dengan drama berjudul kehilangan..
Ya, mereka yang kusebutkan diatas. Mereka adalah aku.. Namun mereka yang menganggap kehilangan adalah ujian, adalah aku yang sekarang. 

Aku percaya, dalam hidup kita tak selamanya menatap nanar kehilangan.. tak selamanya kita harus fokus pada apa yang hilang dan melupakan hal yang ada.. tak selamanya kita berpaku tangan menyesali hal yang telah pergi dan berharap itu kembali.. Karena kehilangan hanyalah fase.. fase yang coraknya bisa kita lukis sendiri.. lukis dengan tinta warna warni.. atau tinta hitam dan warna suram.. semua adalah pilihan kita.. karena hidup bukan tentang menerima.. tapi tentang bagaimana kita memilih hal yang dapat kita terima.. atau hal yang seharusnya kita terima..  

Sampai saat ini aku berusaha memahami berbagai sudut pandang atas kehilangan... Mungkin pada awalnya sulit.. tetapi bersama kesulitan selalu ada kemudahan.. Dan bersama kesulitan selalu ada kemudahan.. Aku berusaha memaknai hidupku lebih indah dengan adanya kehilangan.. Karena indahnya hidupku bukan karena kebahagiaan yang ada, tapi karena kebahagiaan yang kucipta diatas segala kehilangan... Mungkin hidupku tak sempurna.. tapi biarlah kusempurnakan adanya dengan lembaran hitam-putih yang telah ku torehkan diatasnya... 

Semoga, kita semua dapat memaknai kehilangan... sebagai makna yang sebenar-benarnya makna...
Yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa... 

Amiin... Amiin ya Rabbal'alamiin :)

Tahun Lalu, Tahun Yang Baru..

Curahan pertama di tahun baru yang sudah berlalu. 

Tahun 2013 menyisakan banyak kejadian yang tak mudah dilupakan begitu saja. Tahun 2014 juga menimbulkan berbagai pertanyaan, dugaan, serta harapan yang tak mudah sirna, dan masih menyisa disebuah ruangan kosong yang tak berisi, hampir penuh namun tak akan penuh. Selamanya, akan selalu setengah penuh.
Tahun lalu membuahkan berbagai memory yang tak akan usang, walaupun harusnya hilang bersama waktu yang kan berlalu... tapi beberapa kejadian akan ku simpan didalam ruang itu.. ruang yang tak pernah disentuh oleh siapapun... ruang yang selamanya akan menjadi kuasa penuhku...
Tahun lalu, aku belajar banyak. Belajar bagaimana hidup harus melalui proses yang begitu memilukan. bagaimana sebuah perjuangan takkan pernah sia-sia. Belajar betapa pentingnya usaha dalam setiap tujuan yang ingin ku capai... dan belajar bagaimana melepaskan sesuatu yang memang harus dilepaskan. Belajar ikhlas. Ikhlas atas segala ketetapan dan kehendak-Nya atas diri ini...
Tahun ini, mungkin bukan waktu yang mudah. Banyak hal-hal yang harus dicapai.. banyak hal-hal yang harus diperjuangkan...

Aku hanya ingin.. waktu berjalan dengan sewajarnya... Aku berusaha dengan sekeras-kerasnya... 
Karena tahun lalu, menyisakan begitu banyak pertanyaan yang harus ku temukan jawabannya.. meninggalkan beberapa pilihan yang harus ku maknai dengan sebenar-benarnya arti... menghadiahkan kesadaran yang harus selalu ku pupuk...

2014.. Berbaik hatilah kepadaku. :) 

Kamis, 19 Desember 2013

Aku...

Aku memanen hikmah dari kehilangan, ketika keberadaan menjadi kenangan. Kenangan yang kini hanya angan-angan. Hilang. Menyisakan ruang hampa dan cibir kasihan. Aku berusaha bangkit dari kehilangan, kehilangan yang sepatutnya menyayatku..
Aku korban yang ulung. Mengemis bak pemulung... Tak tahu malu. Betapa hinanya diriku ini bung!

Minggu, 15 Desember 2013

Arahan Waktu

Hari ini, aku berumur 19 tahun. Angka yang menuntutku untuk lebih dewasa, berkaca pada kenyataan, melihat dan menghadapi masa depan, dan berusaha lebih untuk apa yang ingin ku raih. 
Sembillan belas tahun. Mungkin waktu yang cukup singkat. Tak terasa semua waktu itu berjalan begitu cepat. Meninggalkan aku dengan diriku yang sekarang, menyisakan waktu yang akan datang, meninggalkan beberapa hal yang membuatku tertantang. 
Satu yang aku sangat pahami adalah, aku semakin tua. Ya walaupun berdasarkan umur aku belum pantas disebut sebagai orang dewasa, tapi aku sadar aku semakin tua. Setidaknya lebih tua dari dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, bahkan lima tahun yang lalu. Dan pada intinya, aku semakin tua.
Di usiaku yang sekarang ini, aku sadar, bahwa aku telah banyak berubah. Berubah dari segi pemikiran, tingkah laku, aktivitas, dan masih banyak lagi perubahan yang telah ku lakukan. Jika aku bisa menengok kebelakang, mungkin aku akan sadar betapa banyak yang ku tinggalkan, betapa banyak yang sudah ku buang, betapa banyak yang telah ku abaikan, demi satu perubahanku, perubahanku yang akan mengarahkanku pada perubahan-perubahan yang belumku lakukan sampai detik ini. Perubahan yang nantinya akan ku lakukan.
Aku sadar, hidup itu bagaikan roda yang harus berputar. Berputar dan mengantarkan setiap porosnya pada sisi kehidupan. Selama ini mungkin belum banyak sisi kehidupan yang ku ketahui. Diriku masih sebuah roh dan raga yang belum penuh dengan berbagai nilai dalam dunia dan kehidupan ini. Gelasku masih kosong, belum terisi. Untuk itu, izinkanlah aku yaAllah... untuk mengisi gelasku dengan tetesan kehidupan.. Buat aku selalu haus, haus akan nilai yang kan menggiringku pada sebuah masa yang selalu inginku gapai..
Di hari ini, aku ingin diriku memahami bahwa, hari ini, ya hari kelahiranku, adalah hari dimana waktu yang ku miliki akan semakin habis. Waktu ini akan menggiringku pada sebuah masa dimasa tak ada lagi masa untukku berkelana. Waktu ini akan mengarahkanku pada titik penghabisan hidupku... Entah aku terlalu aneh atau pemikir dan sebagainya, tapi hal yang selalu ada dibenakku tentang hari ini adalah mati.
Ya kematian.
Nanti ada masa ketika aku bahkan tak bisa lagi bernafas, menulis, mengetik, memainkan jemari ini diatas keyboard untuk membuat tulisan aneh yang ada dibenak.. melakukan segala aktifitas fisik yang selama ini ku lakukan.. Yang ada hanyalah hidup dialam lain dengan segala pertanggungjawaban..
Aku berharap, ketika nanti aku berteman sepi.. Itu bukan sepi yang harus ku tangisi, tapi sepi yang akan membuatku bahagia berseri-seri..
Sekarang, aku hanya akan mengikuti arahan waktu yang menggiringku pada masa itu.. Masa akhir, masa ketika ku ditinggal waktu, masa ketika aku harus berpisah dengan waktu.. waktu yang dulu selalu bersamaku...

Cinta

Aku tak mau gila karena cinta.
Cinta yang mungkin hanyalah sebuah angan belaka... yang ku coba terka, yang tak henti ku kira.
Aku tak mau menjadi budak yang tak lelah mencari cinta.
Cinta yang tak pernah ku genggam sebelumnya, tak pernah ku impikan sebelumnya.
Cinta nan jauh disana.. dilumbung asa berbalut sukar. dipuncak rasa tak bersinggung tawa.
Cinta nan jauh disana.. yang bisa digapai dengan angan muna.
Aku tak mau jatuh karena cinta.
Jatuh kelubang nista nan fana.
Tersungkur payah tak berharga.
Diam tak berdaya.. ditinggal luka..
Menyisa sesal yang tak kunjung pudar... Perih.. Tak pergi meski terbakar...
Aku tak mau kalah karena cinta..
Membuat raga hilang tiada hormat.
Menyisa jiwa yang tak pantas tertambat.
Membawa malu.. Mengukir ragu dan pilu... Lalu tak tahu kemana harus mengadu...

Sabtu, 14 Desember 2013

Jenuh

Jenuh...
Berlalu seiring waktu
Ramah disambut jika hendak bertemu
Lalu berlabuh bersama pilu
Jenuh... Jenuh...

Jenuh...
Hinggap rasa hambar disekitar
Torehkan laku buat hati tak bergetar
Sisipkan makna hampa
Luluh... Mudah gentar...
Jenuh... Jenuh...

Jenuh...
Tak ada ceria dan sangka
Hanya rasa tak berasa
Tak ada luka
Tak ada makna
Jenuh... Jenuh...