Kamis, 19 Desember 2013

Aku...

Aku memanen hikmah dari kehilangan, ketika keberadaan menjadi kenangan. Kenangan yang kini hanya angan-angan. Hilang. Menyisakan ruang hampa dan cibir kasihan. Aku berusaha bangkit dari kehilangan, kehilangan yang sepatutnya menyayatku..
Aku korban yang ulung. Mengemis bak pemulung... Tak tahu malu. Betapa hinanya diriku ini bung!

Minggu, 15 Desember 2013

Arahan Waktu

Hari ini, aku berumur 19 tahun. Angka yang menuntutku untuk lebih dewasa, berkaca pada kenyataan, melihat dan menghadapi masa depan, dan berusaha lebih untuk apa yang ingin ku raih. 
Sembillan belas tahun. Mungkin waktu yang cukup singkat. Tak terasa semua waktu itu berjalan begitu cepat. Meninggalkan aku dengan diriku yang sekarang, menyisakan waktu yang akan datang, meninggalkan beberapa hal yang membuatku tertantang. 
Satu yang aku sangat pahami adalah, aku semakin tua. Ya walaupun berdasarkan umur aku belum pantas disebut sebagai orang dewasa, tapi aku sadar aku semakin tua. Setidaknya lebih tua dari dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, bahkan lima tahun yang lalu. Dan pada intinya, aku semakin tua.
Di usiaku yang sekarang ini, aku sadar, bahwa aku telah banyak berubah. Berubah dari segi pemikiran, tingkah laku, aktivitas, dan masih banyak lagi perubahan yang telah ku lakukan. Jika aku bisa menengok kebelakang, mungkin aku akan sadar betapa banyak yang ku tinggalkan, betapa banyak yang sudah ku buang, betapa banyak yang telah ku abaikan, demi satu perubahanku, perubahanku yang akan mengarahkanku pada perubahan-perubahan yang belumku lakukan sampai detik ini. Perubahan yang nantinya akan ku lakukan.
Aku sadar, hidup itu bagaikan roda yang harus berputar. Berputar dan mengantarkan setiap porosnya pada sisi kehidupan. Selama ini mungkin belum banyak sisi kehidupan yang ku ketahui. Diriku masih sebuah roh dan raga yang belum penuh dengan berbagai nilai dalam dunia dan kehidupan ini. Gelasku masih kosong, belum terisi. Untuk itu, izinkanlah aku yaAllah... untuk mengisi gelasku dengan tetesan kehidupan.. Buat aku selalu haus, haus akan nilai yang kan menggiringku pada sebuah masa yang selalu inginku gapai..
Di hari ini, aku ingin diriku memahami bahwa, hari ini, ya hari kelahiranku, adalah hari dimana waktu yang ku miliki akan semakin habis. Waktu ini akan menggiringku pada sebuah masa dimasa tak ada lagi masa untukku berkelana. Waktu ini akan mengarahkanku pada titik penghabisan hidupku... Entah aku terlalu aneh atau pemikir dan sebagainya, tapi hal yang selalu ada dibenakku tentang hari ini adalah mati.
Ya kematian.
Nanti ada masa ketika aku bahkan tak bisa lagi bernafas, menulis, mengetik, memainkan jemari ini diatas keyboard untuk membuat tulisan aneh yang ada dibenak.. melakukan segala aktifitas fisik yang selama ini ku lakukan.. Yang ada hanyalah hidup dialam lain dengan segala pertanggungjawaban..
Aku berharap, ketika nanti aku berteman sepi.. Itu bukan sepi yang harus ku tangisi, tapi sepi yang akan membuatku bahagia berseri-seri..
Sekarang, aku hanya akan mengikuti arahan waktu yang menggiringku pada masa itu.. Masa akhir, masa ketika ku ditinggal waktu, masa ketika aku harus berpisah dengan waktu.. waktu yang dulu selalu bersamaku...

Cinta

Aku tak mau gila karena cinta.
Cinta yang mungkin hanyalah sebuah angan belaka... yang ku coba terka, yang tak henti ku kira.
Aku tak mau menjadi budak yang tak lelah mencari cinta.
Cinta yang tak pernah ku genggam sebelumnya, tak pernah ku impikan sebelumnya.
Cinta nan jauh disana.. dilumbung asa berbalut sukar. dipuncak rasa tak bersinggung tawa.
Cinta nan jauh disana.. yang bisa digapai dengan angan muna.
Aku tak mau jatuh karena cinta.
Jatuh kelubang nista nan fana.
Tersungkur payah tak berharga.
Diam tak berdaya.. ditinggal luka..
Menyisa sesal yang tak kunjung pudar... Perih.. Tak pergi meski terbakar...
Aku tak mau kalah karena cinta..
Membuat raga hilang tiada hormat.
Menyisa jiwa yang tak pantas tertambat.
Membawa malu.. Mengukir ragu dan pilu... Lalu tak tahu kemana harus mengadu...

Sabtu, 14 Desember 2013

Jenuh

Jenuh...
Berlalu seiring waktu
Ramah disambut jika hendak bertemu
Lalu berlabuh bersama pilu
Jenuh... Jenuh...

Jenuh...
Hinggap rasa hambar disekitar
Torehkan laku buat hati tak bergetar
Sisipkan makna hampa
Luluh... Mudah gentar...
Jenuh... Jenuh...

Jenuh...
Tak ada ceria dan sangka
Hanya rasa tak berasa
Tak ada luka
Tak ada makna
Jenuh... Jenuh...

Jumat, 13 Desember 2013

Topeng

"buka dulu topengmu... biarku lihat wajahmu... biarku lihat warnamu..."

Lagu Peterpan yang sudah terbilang lama itu membuatku sedikit tertawa. Tertawa miris hampir meringis. Ku rasa ada kesan dan pesan yang cukup mengena dalam liriknya, walaupun aku menangkapnya dari kacamata yang mungkin berbeda dari makna yang disampaikan oleh lagu tsb. Penggalan dari lirik lagu itu sangat relevan dan cocok dengan keadaan saat ini... sangat cocok untuk melukiskan keadaan dan kehidupan manusia saat ini...

Buka dulu topengmu.. Topeng, ya topeng.
Kita semua tentu memiliki topeng, topeng yang akan dilihat oleh orang sebagai tameng. Topeng yang kan menggambarkan identitas diri kita masing-masing, ya setidaknya identitas yang ingin kita perihatkan sebagai ciri dan tanda kita sebagai manusia. Tentu bisa jadi sebenarnya bukanlah diri kita apa-adanya. Bisa saja hanya topeng buatan, buatan kita sebagai manusia. Buatan kita, kita yang ingin semua orang melihat apa adanya topeng tsb... bukan diri kita sebenarnya...

Dunia ini sesakkan dengan topeng-topeng buatan manusia, topeng-topeng yang kita buat sesuka hati.. Topeng yang beragam.. Topeng yang bermacam-macam. Mungkin.. Mungkin.. Pada kehidupan sekarang sangat sulit-sangat sulit bukan berarti tidak bisa-untuk menemukan orang tanpa topeng. Sepengalamanku... mereka semua bertopeng.. walaupun mereka melepas topeng dihadapanku... mereka tetap bertopeng dihadapan dia, kamu, atau kalian... Begitu pula aku, akupun bertopeng. Kalian yang tidak mengenal dan memahami aku, kalian yang didekatku dan membuatku tak nyaman, aku bertopeng.. Aku pikir dibeberapa titik, tidak menjadi masalah seseorang bertopeng... Topeng memang tameng.. tapi tameng bukan sekedar tameng.. Itu upaya proteksi bukan?

Beberapa hal mengindikasikan topeng bukan hanya hal yang negatif..
Tapi topeng juga bisa jadi hanya fiktif yang membuat orang naif..
Aku tak menyangkal kalau seorang bebas mengukir topengnya, tapi yang tak aku habis pikir adalah.. bagaimana kita dapat hidup normal dengan topeng-topeng berkeliaran disekitar?
Sebetulnya aku senang dengan hal tersebut, aku bisa banyak belajar, memahami lingkungan sekitar yang notebene jauh berbeda denganku dan tak sesuai dengan kemauanku, banyak hal yang ku pelajari dari topengmu, topengnya, topeng kalian dan topengku sendiri.. Aku senang tapi tak sepenuhnya, aku merasa dibuat dewasa tapi sayang tak begitu membuatku bahagia...
Semuanya serba dilematis..

Mungkin juga aku munafik... naif dan memiliki topeng yang belum mau ku lepas.. dan aku sadar.. Aku harus melepasnya... Karena dunia bukan sandiwara yang dengan mudahnya kita berganti peran dan watak untuk masa yang diinginkan.. Hidup adalah kenyataan... kenyataan yang kadang layaknya sandiwara...
dan aku tak mau jadi aktor ulung yang pandai berganti peran... yang pandai berganti muka, berganti arah dan jalan tujuan...

Tetapi satu yang kita harus pahami... Kita tak punya topeng yang kita pakai saat berhadapan dengan Tuhan kita. Dia tau segala.. tameng atau topeng kita tak akan membantah dan mengelabui-Nya..
Dan hal yang tak pernah dan belum aku paham adalah...
Jika Tuhan tak bisa dikelabui, mengapa kita masih saja gemar memakai topeng duniawi?
Apakah kita pikir Tuhan dengan mudahnya tertipu dengan topeng-topeng indah yang kita buat?
Bukankah kita sudah paham benar jawaban dari pertanyaan diatas?
Mengapa kita tak lepas dari topeng formalitas?
Seakan waktu kita tak terbatas...

Kamis, 12 Desember 2013

Random Place

*sunyi*

Aku disini sendiri... mengapa tak ada seorangpun yang menyepi.. apa kau tak merasa bahwa aku berperih? Hai kau... ya aku disini menanti... menanti rasa berseri-seri... Apa kau tak kunjung mengerti? Bahwa aku telah lelah menyendiri... berteman sepi... berkawan sunyi...

*ramai... penuh canda tawa*

Bersama kita tertawa... Bersama kita berbagi canda dan duka... Suasana ini, tak membunuhku.. keramaian ini tak membuatku pilu... Kadang dan memang, aku benci keramaian.. Tapi keramaian ini begitu damai, mungkin kalah dengan sunyi yang membuai.. Keramaian ini... Dua pohon besar ini... Sepeda lampu ini... membuatku bahagia... Jalan yang bernama Malioboro ini... Kota ini... Membuatku merindukan kalian.. Kalian ya kalian...
Kadang, aku cinta keramaian ini... Keramaian yang membuatku berseri...

*bising... kendaraan berlalu lalang*

Muak. Jenuh. Menjemukan.
Mengapa semua orang seolah robot... robot tak berjiwa yang suka berkelana mengejar dunia.. Mengapa seolah semua lupa kalau punya jiwa.. Mereka hanya raga... dan mereka seolah tak berjiwa, kering, rapuh, runtuh tergerus arus yang terus menggerus...
Apakah mereka tak bosan dengan dunia yang semakin menuntut? Dengan keadaan yang tak mengenal kewajaran?
Kadang, kami tak ubahnya hanyalah sebuah bala tentara nafsu menderu-deru..
Berlaku sesukanya hingga tak kenal waktu..
Uang dicari, dunia dikejar...
Tapi ilmu mudah berlalu, ujian dan cobaan hanya sebuah momen yang hanya menyisakan pilu...
Seolah kami lupa, siapa yang Maha penolong...
Kami lupa... Kami khilaf...
Setiap hari... hanyalah rutinitas berharga formalitas yang kami jalani.. Kami tak paham bahwa kami akan mati.. Kami tak pernah berpikir bahwa beberapa ada yang Dia tak sukai...
Entah kami lupa... Entah kami khilaf...

*hujan lebat... udara lembab*

Tak pernah serumit ini aku menghargai sebuah tetesan hujan... Tak pernah sesulit ini aku memahami arti sebuah tetesan hujan..
Mereka bilang.. Hujan adalah berkah... menghidupkan tumbuhan dan hewan... memberi makna hidup kepada bumi... memberikan rejeki kepada penghuninya...
Tapi tak pernah ku pahami bahwa banjir adalah sebuah berkah, atau rob sebuah rezeki yang patut disyukuri... Tak ku mengerti air comberan dijalan akan menghidupkan hewan dan tumbuhan...
Mengapa segala bentuk rejeki dari hukan menampakkan sisi lain yang tak ku pahami?
Dulu aku senang mandi hujan, merasakan anugerah yang tak lagi dirasakan sekarang...
Dulu aku riang jika hujan, karena hujan berarti senang dan tawa bersama kawan...
Tapi mengapa hujan telah menghancurkan? Menghancurkan beberapa hal yang ditimpanya...
Mengapa...


Tapi... aku sadar... ternyata bukan hujan yang salah... tapi kami. Ya kamilah yang tak mudah dan senang bersyukur... kamilah yang selalu mengartikan cobaan sebagai musibah...
Kami yang tak pernah paham bahwa nikmat tak selalu bahagia..
Kami yang tak mengerti bahwa nikmat tak semuanya akan membuat kami berseri...

*suara deru kereta api... pagi... sepi...*

Aku senang suasana ini... Tak begitu ramai dan sepi... terlebih ada orang terkasih menepi...
Aku akan rindu suasana ini... Suasana yang tak memaksa kita menjadi seorang yang munafik..
Suasana yang mampu mengenal diri ini...
Mengenal diri masing-masing yang begitu sulit dimasa yang lain..
Suasana abadi yang kan selalu ada dihati...

Bulan

Bulan...
Malamku penuh riang. Entah apa yang kurasa... tapi malam ini berbeda, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam ini berbeda ... malam ini penuh rasa... malam ini tak terduga... malam ini tak ku sangka...
Bulan...
Haruskah aku bahagia? Atau lebih baik ku berlaku biasa? Tapi tahukah kau bulan? Ini adalah rasa yang langka, rasa yang sudah lama hilang, pergi tak terduga, menyisa ruang hampa... 
Bulan...
Mungkin aku terlalu terlena.. Atau mungkin ku tak kuasa menahan rasa dan jiwa yang germar berkelana... ku tak mampu menjaganya, menjaganya untuk tetap diam normal dan biasa saja... Salahkah aku?
Bulan...
Mungkin aku yang terlalu sibuk berpikir hingga ku tak mengerti apa yang seharusnya ku lakukan... Apa yang harus benar-benar ku coba dan ku rasakan... Mungkin aku terlalu banyak merenung hingga ku terlalu jauh untuk terus bersangka-sangka... Menyangka yang tak ku pahami... Mengira yang sebetulnya tak pasti...
Bulan..
Mungkin aku terlalu sombong. Sehingga orang lain seakan tak gemar menemaniku berbondong... Aku terlalu pongah, sehingga mereka lupa bahwa aku juga manusia lemah... Yang butuh sandaran, yang butuh teman, yang butuh pelengkap...
Bulan..
Hari ini memang tak banyak hal bermakna.. Tapi dari ketidakbermaknaan, aku menghargai kesan... Aku menghargai bahwa dari ketidakbermaknaan masih ada kesan-kesan sederhana yang sebetulnya memang harus ku syukuri... Yang harus ku pahami bahwa hal penuh makna tidak selamanya mengesankan... Tidak selamanya mudah menimbulkan perhatian..
Bulan..
Malam ini aku sadar... Mungkin rasa egoisku sedikit memudar... Aku sadar ada yang salah selama ini... Ada hal yang mungkin keliru.. Aku sadar, bahwa aku hanya makhluk sosial... Butuh bantuan dan berkeinginan membantu.. Aku sadar itu... sadar...
Bulan...
Aku paham bahwa aku adalah manusia yang telah diberi kekurangan dan kelebihan seperti yang telah ditetapkan-Nya.. Aku sadar bahwa aku hanya hambanya... hambanya yang kecik tapi tak luput dari pandangan... Aku paham bahwa aku hanyalah manusia biasa... yang masih juga membutuhkan manusia (yang lain)...