Jumat, 13 Desember 2013

Topeng

"buka dulu topengmu... biarku lihat wajahmu... biarku lihat warnamu..."

Lagu Peterpan yang sudah terbilang lama itu membuatku sedikit tertawa. Tertawa miris hampir meringis. Ku rasa ada kesan dan pesan yang cukup mengena dalam liriknya, walaupun aku menangkapnya dari kacamata yang mungkin berbeda dari makna yang disampaikan oleh lagu tsb. Penggalan dari lirik lagu itu sangat relevan dan cocok dengan keadaan saat ini... sangat cocok untuk melukiskan keadaan dan kehidupan manusia saat ini...

Buka dulu topengmu.. Topeng, ya topeng.
Kita semua tentu memiliki topeng, topeng yang akan dilihat oleh orang sebagai tameng. Topeng yang kan menggambarkan identitas diri kita masing-masing, ya setidaknya identitas yang ingin kita perihatkan sebagai ciri dan tanda kita sebagai manusia. Tentu bisa jadi sebenarnya bukanlah diri kita apa-adanya. Bisa saja hanya topeng buatan, buatan kita sebagai manusia. Buatan kita, kita yang ingin semua orang melihat apa adanya topeng tsb... bukan diri kita sebenarnya...

Dunia ini sesakkan dengan topeng-topeng buatan manusia, topeng-topeng yang kita buat sesuka hati.. Topeng yang beragam.. Topeng yang bermacam-macam. Mungkin.. Mungkin.. Pada kehidupan sekarang sangat sulit-sangat sulit bukan berarti tidak bisa-untuk menemukan orang tanpa topeng. Sepengalamanku... mereka semua bertopeng.. walaupun mereka melepas topeng dihadapanku... mereka tetap bertopeng dihadapan dia, kamu, atau kalian... Begitu pula aku, akupun bertopeng. Kalian yang tidak mengenal dan memahami aku, kalian yang didekatku dan membuatku tak nyaman, aku bertopeng.. Aku pikir dibeberapa titik, tidak menjadi masalah seseorang bertopeng... Topeng memang tameng.. tapi tameng bukan sekedar tameng.. Itu upaya proteksi bukan?

Beberapa hal mengindikasikan topeng bukan hanya hal yang negatif..
Tapi topeng juga bisa jadi hanya fiktif yang membuat orang naif..
Aku tak menyangkal kalau seorang bebas mengukir topengnya, tapi yang tak aku habis pikir adalah.. bagaimana kita dapat hidup normal dengan topeng-topeng berkeliaran disekitar?
Sebetulnya aku senang dengan hal tersebut, aku bisa banyak belajar, memahami lingkungan sekitar yang notebene jauh berbeda denganku dan tak sesuai dengan kemauanku, banyak hal yang ku pelajari dari topengmu, topengnya, topeng kalian dan topengku sendiri.. Aku senang tapi tak sepenuhnya, aku merasa dibuat dewasa tapi sayang tak begitu membuatku bahagia...
Semuanya serba dilematis..

Mungkin juga aku munafik... naif dan memiliki topeng yang belum mau ku lepas.. dan aku sadar.. Aku harus melepasnya... Karena dunia bukan sandiwara yang dengan mudahnya kita berganti peran dan watak untuk masa yang diinginkan.. Hidup adalah kenyataan... kenyataan yang kadang layaknya sandiwara...
dan aku tak mau jadi aktor ulung yang pandai berganti peran... yang pandai berganti muka, berganti arah dan jalan tujuan...

Tetapi satu yang kita harus pahami... Kita tak punya topeng yang kita pakai saat berhadapan dengan Tuhan kita. Dia tau segala.. tameng atau topeng kita tak akan membantah dan mengelabui-Nya..
Dan hal yang tak pernah dan belum aku paham adalah...
Jika Tuhan tak bisa dikelabui, mengapa kita masih saja gemar memakai topeng duniawi?
Apakah kita pikir Tuhan dengan mudahnya tertipu dengan topeng-topeng indah yang kita buat?
Bukankah kita sudah paham benar jawaban dari pertanyaan diatas?
Mengapa kita tak lepas dari topeng formalitas?
Seakan waktu kita tak terbatas...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar